B

Oleh: Hafidhotul Muntastiroh

Anggota Ekskul KIR/Literasi “Sabha Pena”

MAN Bondowoso)   

Tak dapat dipungkiri bahwa manusia pasti diuji dengan dua bentuk: menghadapi kesulitan atau menghadapi kelapangan. Keduanya adalah ujian sekaligus tanda kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Tidak ada jalan lain bagi hamba-Nya, kecuali harus melewatinya dengan keikhlasan menerima kehendak-Nya itu. Seperti romantika hidup tokoh utama, Nafisya Kaila Akbar (dipanggil Fisya), berkenaan dengan perceraian ayah-bundanya, kakaknya, jodoh, kuliah, dan penyakit yang dideritanya, yang diceritakan dengan apik dan mengharu-biru dalam buku ini.

Fisya adalah remaja muslimah yang taat dalam menjalan ibadah. Mungkin karena ia terlahir dari keluarga Islami. Hanya saja, ia sangat membenci abinya. Apa pasal? Saat ia kecil, abi dan uminya bercerai tepat saat awal Fisya masuk sekolah. Perceraian itu benar-benar melekat di ingatannya dan membuatnya trauma dengan laki-laki. Ia menganggap bahwa semua laki-laki itu sama saja. Sama seperti abinya.

Tetapi kehadiran Jidan, teman laki-laki pertamanya, membuatnya sedikit mengobati rasa sakit hatinya. Jidan membuat hari-hari mahasiswi farmasi itu lebih menyenangkan. Hingga  akhirnya ia mengetahui bahwa pria yang ia sukai itu mencintai kakaknya sendiri dan ingin melamarnya. Sungguh ia tak menyangkanya. Sakit, remuk, dan hancur hatinya. Itu yang Fisya rasakan.

Sejak itulah ia sadar bahwa menjatuhkan harapan kepada manusia itu adalah salah, karena Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan daripada yang kita inginkan. Dalam doa sepertiga malam ia meminta agar jodohnya nanti benar-benar mencintainya karena Allah. Dan ternyata, Allah menjawab doanya dengan menghadirkan sosok dosen galak yang tak segan memberinya hukuman.

Siapa sangka bahwa dosen galak itu ternyata diam-diam selalu memikirkan mahasiwi yang ternyata adik temannya itu. Saat malam pengajian pernikahan Salsya dan Jidan, Fasya di-khitbah (ditunangkan) dengan sang lelaki bernama Alif yang penuh perhatian itu. Dan khitbah itu menjadi syarat dari uminya bagi Fisya untuk bisa belajar ke luar negeri.

Tibalah waktu Fisya berangkat ke luar negeri. Dalam perjalanan ke bandara itu, ia mendapat kabar bahwa abinya sedang sakit. Ia tak menyangka bahwa pria yang selama ini dibencinya itu menderita penyakit komplikasi serius yang kemudia menyebabkannya meninggal.

Pupus sudah harapan Fisya agar abinya menjabat tangan calon suaminya di akad nikahnya. Ya, Fisya sudah menikah dengan pria yang mengkhitbahnya pada malam pengajian pernikahan kakaknya itu. Pernikahannya berjalan dengan baik, hingga suatu hari Allah mengujinya dengan sebuah penyakit multiple sclerosis yang membuatnya meminta cerai agar suaminya bisa bahagia tanpa harus repot-repot merawat dirinya yang sedang sakit.

Sudah 6 bulan mereka bercerai karena alasan yang tak pernah Alif ketahui kebenarannya. Saat Jidan memberitahukan kepada Alif tentang alasan Nafisya memintanya bercerai, Alif sungguh tak menyangka. Wanita yang sangat ia sayangi itu sedang berjuang seorang diri melawan rasa sakitnya. Saat itu juga Alif langsung mencari keberadaan Nafisya dan memintanya untuk rujuk.

Selanjutnya, Alif selalu mendampingi Fisya, terlebih saat ia dalam keadaan koma akibat operasi besar yang dilakukan padanya. Setiap malam Alif membacakan Alquran. Berharap istrinya mendengar kalam-kalam ilahi yang dibacanya. Ketika Allah berkata “Jadilah!” maka akan terjadi. Tak ada satu pun makhluk yang mampu menghentikannya Hanya kalimat syukur yang dapat Alif ucapkan ketika tahu istrinya bangun dari koma, dan keadaannya berangsur membaik. Hingga suatu hari Allah memberikan dua insan itu hadiah besar berupa kehamilan Fisya.

Buku ini menjadi salah satu motivasi bagi kita bahwa Allah menguji makhluk-Nya karena Ia sangat mencintainya. Buku ini memang tebal, tetapi setiap lembarnya memuat makna yang sangat memukau, utamanya bagi para remaja yang mengharapkan jodoh dengan berdoa di sepertiga malamnya. “Ketika kamu berharap kepada selain Allah maka bersiaplah untuk kecewa.”

Judul Buku: Assalamualaikum Calon Imam

Penulis: Ima Madaniah

Penerbit: Coconut Books Depok Jawa Barat       

Tahun Terbit: Cetakan II/ 2018

Tebal: 476 Halaman

ISBN: 978-602-6940-90-2

Categories: Koleksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *