Pada kenyataannya, musik dan lagu dapat menjadi media propaganda, sebagaimana sebuah iklan dengan visualisasi bagus diiringi oleh lantunan musik dan lagu. Demikian pula, Kusbini bersama Ir. Soekarno mampu membangkitkan alam sadar bangsa Indonesia yang sangat dicintai melalui propaganda halus lagu-lagu cinta tanah air.

Namun, spirit yang telah dirintis oleh Kusbini bersama Ir. Soekarno akan perjuangan dan cinta tanah air tersebut hanya bisa dimuseumkan. Dimuseumkan sering berarti kematian. Menurut Kristanto Budiprabowo, dimuseumkan adalah dimatikan dan dikekalkan dalam ketidakberdayaan. Karakter unik, cerita khas, kekuatan kehidupan yang berada di balik segala benda yang dipamerkan – ketika sudah berada di museum – menjadi hilang dan berubah seketika sekadar menjadi barang tontonan yang entah dikagumi entah ditertawakan.

Kusbini dan Propaganda Kemerdekaan

Sapta Ksvara Kusbini, konduktor di Gita Bahana Nusantara, mengatakan selalu teringat ayahnya setiap mengangkat tongkat konduktor di depan paduan suara dan orkestra.

Sapta Ksvara adalah putera ketujuh Kusbini, pencipta lagu nasional Bagimu Neg’RI, yang menyuruhnya secara personal untuk meneruskan jejak karirnya di dunia musik Indonesia dari 10 anak lainnya.

Kata-kata ayahnya begitu melekat dalam ingatan, “Le, kowe yang neruske aku di dunia musik.” ujar Kusbini sembari menepuk bahu Sapta Ksvara. Maka, setiap ia mengangkat tongkat, Sapta merasa ada bapaknya turut hadir, melihat dirinya menjadi konduktor. Apalagi ketika sedang menyanyikan lagu Bagimu Neg’RI pada setiap acara nasional. Bukan hal aneh jika Sapta sering menteskan airmatanya. Begitu pula tatkala riuh tepuk tangan dari penonton yang diterima olehnya usai memimpin lagu.

Kusbini lahir di Mojokerto, Jawa Timur, 1 Januari 1910, dan meninggal di Yogyakarta, 28 Februari 1991, pada umur 81 tahun. Dia adalah komponis dan tokoh musik Keroncong era 1930 – 1955 yang legendaris, bersama Annie Landouw, Gesang, S. Abdoellah, dan Miss Roekiah.

Pada era “Keroncong Abadi” (1920 – 1960), Kusbini merupakan sosok penyanyi dan komponis. Pada era sekitar tahun 1937 – 1942, ia aktif menyanyi dan main musik Keroncong. Pada masa Hindia Belanda, ia menuliskan kembali lagu Keroncong Telomoyo, Moresko, Nina Bobo, serta mencipta lagu Keroncong Purbakala.

Pada tahun 1942, Kusbini diminta Ir. Soekarno untuk menciptakan lagu perjuangan untuk nasionalisme. Kusbini menyanggupi. Setelah melalui diskusi panjang dengan Ir. Soekarno, lagu tersebut kemudian diberi judul olehnya “Bagimu Neg’RI”. Lagu perjuangan yang kemudian ditetapkan sebagai lagu nasional pada tahun 1960. Kusbini mengartikan ”Negeri” sebagai Negara (Neg). Ia sengaja menyelebungkan pesan perjuangan karena Jepang tidak menyukai segala hal yang berhubungan dengan perjuangan kemerdekaan. Sebelum dikumandangkan secara resmi, lagu tersebut mengalami perubahan syair beberapa kali. Ibu Sud adalah orang pertama yang menyanyikan lagu tersebut di Hoso Kanri Kyoku.

Selama tahun 1945 – 1952, Kusbini mencipta lagu perjuangan bersama C. Simanjuntak, Ismail Marzuki, dan L. Manik. Tahun 1950 ia bekerja di P&K Yogyakarta untuk urusan musik. Kusbini adalah juga pendiri SMINDO 1954 (Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta milik Pemerintah – yang kemudian menjadi AMI dan ISI Yogyakarta). Ia juga mendirikan SOSI (Sekolah Olah Seni Indonesia) yang hingga sekarang diasuh dan diteruskan oleh anak-anaknya.

Antara tahun 1952 – 1956, pihak RRI (Radio Republik Indonesia) menyelenggarakan Pemilihan Bintang Radio dan Lagu Keroncong. Kusbini memenangkan pemilihan lagu: Keroncong Pastoral.

Di masa-masa tuanya, Kusbini menulis beberapa buku diantaranya: Kumpulan Lagu-lagu Keroncong Indonesia, Sejarah Seni Musik Keroncong Indonesia, Diktat Gitar, Diktat Vokal, Teori Musik, Diktat Viool, dan Pelajaran Bass.

Kusbini menerima penghargaan-penghargaan: Pembina Musik Keroncong Indonesia (P dan K tahun 1972); Medali Arati Bayangkara (dari Korwil II, tahun 1976).

Demikian, sekilas riwayat hidup Kusbini, sosok yang telah memberikan kontribusi yang tidak sedikit untuk lagu-lagu propaganda kemerdekaan dan kemajuan permusikan di tanah air. Melalui lagu-lagu ciptaannya, ia mampu membangkitkan semangat cinta tanah air pada masa-masa perjuangan dan meningkatkan kualitas permusikan tanah air untuk kemajuan peradaban.

Museum Musik Keroncong dan Peradaban

Dari gambaran singkat riwayat hidup Kusbini tersebut di atas dapat dilihat: musik dan lagu mampu membangkitkan spirit dan merubah keadaan. Secara materil, lagu dan musik telah menyisakan jejak- jejak sejarah dengan suasana dan nuansa ketika lagu dan musik tersebut ada. Dengan kata lain, lagu dan musik tidak dapat dipandang remeh sebelah mata. Kajian dan penelitian secara berkesinambungan terhadap lagu dan musik dapat merekonstruksi sejarah dan peradaban suatu bangsa.

Hanya saja, untuk lagu dan musik yang sudah terlanjur dimuseumkan perlu kiranya dihadirkan kembali dan diambil elan vitalnya, sehingga spirit dan motifnya dapat menjadi titik tonggak kemajuan di masa yang akan datang.

Lalu, jika sekarang hendak membangun museum yang bersifat tematik dan fokus pada aktivitas musikal manusia Indonesia, konsep apakah yang sebaiknya ditawarkan kepada masyarakat? Demikian, ungkap Kristanto Budiprabowo, seorang penikmat music di Malang. Tentu, dengan gambaran tempat eksotis beserta keunikan, kemegahan, kekayaan bebunyian yang diproduksi oleh anak negeri dapat disaksikan dan dikenang kembali melalui pusat referensi musik khas seperti Keroncong yang berasal dari wilayah demografis Indonesia. Atau, menyediakan ruang agar setiap manusia Indonesia sadar: musik Keroncong adalah bahasa universal yang menghubungkan tiap-tiap manusia dan semesta bunyi dari alam Indonesia. Demikian, gambaran Kusbini ketika menyatakan Keroncong adalah bagian dari akselerasi ”rasa berkeindahan” manusia Indonesia melalui musik.

Dengan demikian, tantangan yang tidak bisa diabaikan adalah usaha merekreasi koleksi-koleksi museum menjadi bagian penting yang perlu dipertimbangkan. Kekayaan koleksi dan keluasan cakupan tema bebunyian pada museum musik Keroncong yang disajikan, tentu bukan satu-satunya jaminan untuk dapat mentransfer fungsi bunyi ke dalam proses pembentukan peradaban. Namun, dibutuhkan peran-peran kolektor, kurator, analis-akademisi musik, sejarawan, para pelaku dan penerusnya, dan tentu masyarakat awam agar terlibat bersama-sama dalam menentukan sistematika paling ideal untuk semua kebutuhan masing-masing pihak. Dengan kata lain, museum Keroncong pun perlu difungsikan sebagai terminal ketika setiap orang dapat melampaui zamannya dan saling berjumpa dalam konteks musikal. 

Dalam perjumpaan tersebut, setiap pihak bisa dengan leluasa mengutarakan impian terbaiknya agar ruang museum keroncong menjadi sebuah simulasi. Dalam konteks music Keroncong, simulasi museum dapat mencantumkan proses kreatif, nilai-nilai yang disuarakan, dan perubahan sosial yang mengitarinya. Tentu saja hal ini membutuhkan perencanaan penataan yang dapat menghadirkan nuansa paling kondusif bagi tiap orang yang berada di dalamnya. Misalnya, sebuah proses kreatif yang menghasilkan lagu dan musik tertentu, pastilah memiliki kisah yang panjang. Lagu dan musik tidak begitu saja ada dan lantas menjadi dikenal orang dengan sendirinya. Proses kreatif yang menghasilkan lagu dan musik tersebut pastilah bersentuhan dengan nilai keutamaan yang beredar di khalayak sehingga membuat menjadi dekat di telinga dan mengena di dalam hati, serta pikiran khalayak. Hal demikian merupakan akibat maupun penyebab: proses kreatif yang bersentuhan dengan nilai keutamaan masyarakat dapat menjadi penanda penting bagi konteks perubahan sosial yang sedang terjadi.

Ruang pertemuan dalam tema musik Keroncong memiliki peran penting dalam menentukan peradaban. Secara teknis, tentu hal ini merupakan hak wacana bagi para musikolog. Dari perspektif pengamat dan penikmat musik Keroncong (yang kreatif bersentuhan dengan nilai dalam konteks perubahan sosial), tentu tidak berdiri sendiri sebagai dekorasi dan keindahan latar dari perkembangan peradaban. Sebab, momen-momen penting dalam peradaban manusia memiliki kekhasan musikalnya. Atau, dengan kata lain, munculnya dan bertahannya sebuah musikalisasi terhadap pesan tertentu adalah bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari peradaban dan bahkan secara lebih sempit budaya tertentu. Demikianlah sebuah museum musik tidak hanya ruang pajang kekayaan koleksi, melainkan berpeluang juga menjadi ruang pertemuan bagi peradaban.

Pada kenyataannya, musik dan lagu dapat menjadi media propaganda, sebagaimana sebuah iklan dengan visualisasi bagus diiringi oleh lantunan musik dan lagu. Demikian pula, Kusbini bersama Ir. Soekarno mampu membangkitkan alam sadar bangsa Indonesia yang sangat dicintai melalui propaganda halus lagu-lagu cinta tanah air.

Namun, spirit yang telah dirintis oleh Kusbini bersama Ir. Soekarno akan perjuangan dan cinta tanah air tersebut hanya bisa dimuseumkan. Dimuseumkan sering berarti kematian. Menurut Kristanto Budiprabowo, dimuseumkan adalah dimatikan dan dikekalkan dalam ketidakberdayaan. Karakter unik, cerita khas, kekuatan kehidupan yang berada di balik segala benda yang dipamerkan – ketika sudah berada di museum – menjadi hilang dan berubah seketika sekadar menjadi barang tontonan yang entah dikagumi entah ditertawakan.

Kusbini dan Propaganda Kemerdekaan

Sapta Ksvara Kusbini, konduktor di Gita Bahana Nusantara, mengatakan selalu teringat ayahnya setiap mengangkat tongkat konduktor di depan paduan suara dan orkestra.

Sapta Ksvara adalah putera ketujuh Kusbini, pencipta lagu nasional Bagimu Neg’RI, yang menyuruhnya secara personal untuk meneruskan jejak karirnya di dunia musik Indonesia dari 10 anak lainnya.

Kata-kata ayahnya begitu melekat dalam ingatan, “Le, kowe yang neruske aku di dunia musik.” ujar Kusbini sembari menepuk bahu Sapta Ksvara. Maka, setiap ia mengangkat tongkat, Sapta merasa ada bapaknya turut hadir, melihat dirinya menjadi konduktor. Apalagi ketika sedang menyanyikan lagu Bagimu Neg’RI pada setiap acara nasional. Bukan hal aneh jika Sapta sering menteskan airmatanya. Begitu pula tatkala riuh tepuk tangan dari penonton yang diterima olehnya usai memimpin lagu.

Kusbini lahir di Mojokerto, Jawa Timur, 1 Januari 1910, dan meninggal di Yogyakarta, 28 Februari 1991, pada umur 81 tahun. Dia adalah komponis dan tokoh musik Keroncong era 1930 – 1955 yang legendaris, bersama Annie Landouw, Gesang, S. Abdoellah, dan Miss Roekiah.

Pada era “Keroncong Abadi” (1920 – 1960), Kusbini merupakan sosok penyanyi dan komponis. Pada era sekitar tahun 1937 – 1942, ia aktif menyanyi dan main musik Keroncong. Pada masa Hindia Belanda, ia menuliskan kembali lagu Keroncong Telomoyo, Moresko, Nina Bobo, serta mencipta lagu Keroncong Purbakala.

Pada tahun 1942, Kusbini diminta Ir. Soekarno untuk menciptakan lagu perjuangan untuk nasionalisme. Kusbini menyanggupi. Setelah melalui diskusi panjang dengan Ir. Soekarno, lagu tersebut kemudian diberi judul olehnya “Bagimu Neg’RI”. Lagu perjuangan yang kemudian ditetapkan sebagai lagu nasional pada tahun 1960. Kusbini mengartikan ”Negeri” sebagai Negara (Neg). Ia sengaja menyelebungkan pesan perjuangan karena Jepang tidak menyukai segala hal yang berhubungan dengan perjuangan kemerdekaan. Sebelum dikumandangkan secara resmi, lagu tersebut mengalami perubahan syair beberapa kali. Ibu Sud adalah orang pertama yang menyanyikan lagu tersebut di Hoso Kanri Kyoku.

Selama tahun 1945 – 1952, Kusbini mencipta lagu perjuangan bersama C. Simanjuntak, Ismail Marzuki, dan L. Manik. Tahun 1950 ia bekerja di P&K Yogyakarta untuk urusan musik. Kusbini adalah juga pendiri SMINDO 1954 (Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta milik Pemerintah – yang kemudian menjadi AMI dan ISI Yogyakarta). Ia juga mendirikan SOSI (Sekolah Olah Seni Indonesia) yang hingga sekarang diasuh dan diteruskan oleh anak-anaknya.

Antara tahun 1952 – 1956, pihak RRI (Radio Republik Indonesia) menyelenggarakan Pemilihan Bintang Radio dan Lagu Keroncong. Kusbini memenangkan pemilihan lagu: Keroncong Pastoral.

Di masa-masa tuanya, Kusbini menulis beberapa buku diantaranya: Kumpulan Lagu-lagu Keroncong Indonesia, Sejarah Seni Musik Keroncong Indonesia, Diktat Gitar, Diktat Vokal, Teori Musik, Diktat Viool, dan Pelajaran Bass.

Kusbini menerima penghargaan-penghargaan: Pembina Musik Keroncong Indonesia (P dan K tahun 1972); Medali Arati Bayangkara (dari Korwil II, tahun 1976).

Demikian, sekilas riwayat hidup Kusbini, sosok yang telah memberikan kontribusi yang tidak sedikit untuk lagu-lagu propaganda kemerdekaan dan kemajuan permusikan di tanah air. Melalui lagu-lagu ciptaannya, ia mampu membangkitkan semangat cinta tanah air pada masa-masa perjuangan dan meningkatkan kualitas permusikan tanah air untuk kemajuan peradaban.

Museum Musik Keroncong dan Peradaban

Dari gambaran singkat riwayat hidup Kusbini tersebut di atas dapat dilihat: musik dan lagu mampu membangkitkan spirit dan merubah keadaan. Secara materil, lagu dan musik telah menyisakan jejak- jejak sejarah dengan suasana dan nuansa ketika lagu dan musik tersebut ada. Dengan kata lain, lagu dan musik tidak dapat dipandang remeh sebelah mata. Kajian dan penelitian secara berkesinambungan terhadap lagu dan musik dapat merekonstruksi sejarah dan peradaban suatu bangsa.

Hanya saja, untuk lagu dan musik yang sudah terlanjur dimuseumkan perlu kiranya dihadirkan kembali dan diambil elan vitalnya, sehingga spirit dan motifnya dapat menjadi titik tonggak kemajuan di masa yang akan datang.

Lalu, jika sekarang hendak membangun museum yang bersifat tematik dan fokus pada aktivitas musikal manusia Indonesia, konsep apakah yang sebaiknya ditawarkan kepada masyarakat? Tentu, dengan gambaran tempat eksotis beserta keunikan, kemegahan, kekayaan bebunyian yang diproduksi oleh anak negeri dapat disaksikan dan dikenang kembali melalui pusat referensi musik khas seperti Keroncong yang berasal dari wilayah demografis Indonesia. Atau, menyediakan ruang agar setiap manusia Indonesia sadar: musik Keroncong adalah bahasa universal yang menghubungkan tiap-tiap manusia dan semesta bunyi dari alam Indonesia. Demikian, gambaran Kusbini ketika menyatakan Keroncong adalah bagian dari akselerasi ”rasa berkeindahan” manusia Indonesia melalui musik.

Dengan demikian, tantangan yang tidak bisa diabaikan adalah usaha merekreasi koleksi-koleksi museum menjadi bagian penting yang perlu dipertimbangkan. Kekayaan koleksi dan keluasan cakupan tema bebunyian pada museum musik Keroncong yang disajikan, tentu bukan satu-satunya jaminan untuk dapat mentransfer fungsi bunyi ke dalam proses pembentukan peradaban. Namun, dibutuhkan peran-peran kolektor, kurator, analis-akademisi musik, sejarawan, para pelaku dan penerusnya, dan tentu masyarakat awam agar terlibat bersama-sama dalam menentukan sistematika paling ideal untuk semua kebutuhan masing-masing pihak. Dengan kata lain, museum Keroncong pun perlu difungsikan sebagai terminal ketika setiap orang dapat melampaui zamannya dan saling berjumpa dalam konteks musikal. 

Dalam perjumpaan tersebut, setiap pihak bisa dengan leluasa mengutarakan impian terbaiknya agar ruang museum keroncong menjadi sebuah simulasi. Dalam konteks music Keroncong, simulasi museum dapat mencantumkan proses kreatif, nilai-nilai yang disuarakan, dan perubahan sosial yang mengitarinya. Tentu saja hal ini membutuhkan perencanaan penataan yang dapat menghadirkan nuansa paling kondusif bagi tiap orang yang berada di dalamnya. Misalnya, sebuah proses kreatif yang menghasilkan lagu dan musik tertentu, pastilah memiliki kisah yang panjang. Lagu dan musik tidak begitu saja ada dan lantas menjadi dikenal orang dengan sendirinya. Proses kreatif yang menghasilkan lagu dan musik tersebut pastilah bersentuhan dengan nilai keutamaan yang beredar di khalayak sehingga membuat menjadi dekat di telinga dan mengena di dalam hati, serta pikiran khalayak. Hal demikian merupakan akibat maupun penyebab: proses kreatif yang bersentuhan dengan nilai keutamaan masyarakat dapat menjadi penanda penting bagi konteks perubahan sosial yang sedang terjadi.

Ruang pertemuan dalam tema musik Keroncong memiliki peran penting dalam menentukan peradaban. Secara teknis, tentu hal ini merupakan hak wacana bagi para musikolog. Dari perspektif pengamat dan penikmat musik Keroncong (yang kreatif bersentuhan dengan nilai dalam konteks perubahan sosial), tentu tidak berdiri sendiri sebagai dekorasi dan keindahan latar dari perkembangan peradaban. Sebab, momen-momen penting dalam peradaban manusia memiliki kekhasan musikalnya. Atau, dengan kata lain, munculnya dan bertahannya sebuah musikalisasi terhadap pesan tertentu adalah bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari peradaban dan bahkan secara lebih sempit budaya tertentu. Demikianlah sebuah museum musik tidak hanya ruang pajang kekayaan koleksi, melainkan berpeluang juga menjadi ruang pertemuan bagi peradaban.

Pada kenyataannya, musik dan lagu dapat menjadi media propaganda, sebagaimana sebuah iklan dengan visualisasi bagus diiringi oleh lantunan musik dan lagu. Demikian pula, Kusbini bersama Ir. Soekarno mampu membangkitkan alam sadar bangsa Indonesia yang sangat dicintai melalui propaganda halus lagu-lagu cinta tanah air.

Namun, spirit yang telah dirintis oleh Kusbini bersama Ir. Soekarno akan perjuangan dan cinta tanah air tersebut hanya bisa dimuseumkan. Dimuseumkan sering berarti kematian. Menurut Kristanto Budiprabowo, dimuseumkan adalah dimatikan dan dikekalkan dalam ketidakberdayaan. Karakter unik, cerita khas, kekuatan kehidupan yang berada di balik segala benda yang dipamerkan – ketika sudah berada di museum – menjadi hilang dan berubah seketika sekadar menjadi barang tontonan yang entah dikagumi entah ditertawakan.

Kusbini dan Propaganda Kemerdekaan

Sapta Ksvara Kusbini, konduktor di Gita Bahana Nusantara, mengatakan selalu teringat ayahnya setiap mengangkat tongkat konduktor di depan paduan suara dan orkestra.

Sapta Ksvara adalah putera ketujuh Kusbini, pencipta lagu nasional Bagimu Neg’RI, yang menyuruhnya secara personal untuk meneruskan jejak karirnya di dunia musik Indonesia dari 10 anak lainnya.

Kata-kata ayahnya begitu melekat dalam ingatan, “Le, kowe yang neruske aku di dunia musik.” ujar Kusbini sembari menepuk bahu Sapta Ksvara. Maka, setiap ia mengangkat tongkat, Sapta merasa ada bapaknya turut hadir, melihat dirinya menjadi konduktor. Apalagi ketika sedang menyanyikan lagu Bagimu Neg’RI pada setiap acara nasional. Bukan hal aneh jika Sapta sering menteskan airmatanya. Begitu pula tatkala riuh tepuk tangan dari penonton yang diterima olehnya usai memimpin lagu.

Kusbini lahir di Mojokerto, Jawa Timur, 1 Januari 1910, dan meninggal di Yogyakarta, 28 Februari 1991, pada umur 81 tahun. Dia adalah komponis dan tokoh musik Keroncong era 1930 – 1955 yang legendaris, bersama Annie Landouw, Gesang, S. Abdoellah, dan Miss Roekiah.

Pada era “Keroncong Abadi” (1920 – 1960), Kusbini merupakan sosok penyanyi dan komponis. Pada era sekitar tahun 1937 – 1942, ia aktif menyanyi dan main musik Keroncong. Pada masa Hindia Belanda, ia menuliskan kembali lagu Keroncong Telomoyo, Moresko, Nina Bobo, serta mencipta lagu Keroncong Purbakala.

Pada tahun 1942, Kusbini diminta Ir. Soekarno untuk menciptakan lagu perjuangan untuk nasionalisme. Kusbini menyanggupi. Setelah melalui diskusi panjang dengan Ir. Soekarno, lagu tersebut kemudian diberi judul olehnya “Bagimu Neg’RI”. Lagu perjuangan yang kemudian ditetapkan sebagai lagu nasional pada tahun 1960. Kusbini mengartikan ”Negeri” sebagai Negara (Neg). Ia sengaja menyelebungkan pesan perjuangan karena Jepang tidak menyukai segala hal yang berhubungan dengan perjuangan kemerdekaan. Sebelum dikumandangkan secara resmi, lagu tersebut mengalami perubahan syair beberapa kali. Ibu Sud adalah orang pertama yang menyanyikan lagu tersebut di Hoso Kanri Kyoku.

Selama tahun 1945 – 1952, Kusbini mencipta lagu perjuangan bersama C. Simanjuntak, Ismail Marzuki, dan L. Manik. Tahun 1950 ia bekerja di P&K Yogyakarta untuk urusan musik. Kusbini adalah juga pendiri SMINDO 1954 (Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta milik Pemerintah – yang kemudian menjadi AMI dan ISI Yogyakarta). Ia juga mendirikan SOSI (Sekolah Olah Seni Indonesia) yang hingga sekarang diasuh dan diteruskan oleh anak-anaknya.

Antara tahun 1952 – 1956, pihak RRI (Radio Republik Indonesia) menyelenggarakan Pemilihan Bintang Radio dan Lagu Keroncong. Kusbini memenangkan pemilihan lagu: Keroncong Pastoral.

Di masa-masa tuanya, Kusbini menulis beberapa buku diantaranya: Kumpulan Lagu-lagu Keroncong Indonesia, Sejarah Seni Musik Keroncong Indonesia, Diktat Gitar, Diktat Vokal, Teori Musik, Diktat Viool, dan Pelajaran Bass.

Kusbini menerima penghargaan-penghargaan: Pembina Musik Keroncong Indonesia (P dan K tahun 1972); Medali Arati Bayangkara (dari Korwil II, tahun 1976).

Demikian, sekilas riwayat hidup Kusbini, sosok yang telah memberikan kontribusi yang tidak sedikit untuk lagu-lagu propaganda kemerdekaan dan kemajuan permusikan di tanah air. Melalui lagu-lagu ciptaannya, ia mampu membangkitkan semangat cinta tanah air pada masa-masa perjuangan dan meningkatkan kualitas permusikan tanah air untuk kemajuan peradaban.

Museum Musik Keroncong dan Peradaban

Dari gambaran singkat riwayat hidup Kusbini tersebut di atas dapat dilihat: musik dan lagu mampu membangkitkan spirit dan merubah keadaan. Secara materil, lagu dan musik telah menyisakan jejak- jejak sejarah dengan suasana dan nuansa ketika lagu dan musik tersebut ada. Dengan kata lain, lagu dan musik tidak dapat dipandang remeh sebelah mata. Kajian dan penelitian secara berkesinambungan terhadap lagu dan musik dapat merekonstruksi sejarah dan peradaban suatu bangsa.

Hanya saja, untuk lagu dan musik yang sudah terlanjur dimuseumkan perlu kiranya dihadirkan kembali dan diambil elan vitalnya, sehingga spirit dan motifnya dapat menjadi titik tonggak kemajuan di masa yang akan datang.

Lalu, jika sekarang hendak membangun museum yang bersifat tematik dan fokus pada aktivitas musikal manusia Indonesia, konsep apakah yang sebaiknya ditawarkan kepada masyarakat? Tentu, dengan gambaran tempat eksotis beserta keunikan, kemegahan, kekayaan bebunyian yang diproduksi oleh anak negeri dapat disaksikan dan dikenang kembali melalui pusat referensi musik khas seperti Keroncong yang berasal dari wilayah demografis Indonesia. Atau, menyediakan ruang agar setiap manusia Indonesia sadar: musik Keroncong adalah bahasa universal yang menghubungkan tiap-tiap manusia dan semesta bunyi dari alam Indonesia. Demikian, gambaran Kusbini ketika menyatakan Keroncong adalah bagian dari akselerasi ”rasa berkeindahan” manusia Indonesia melalui musik.

Dengan demikian, tantangan yang tidak bisa diabaikan adalah usaha merekreasi koleksi-koleksi museum menjadi bagian penting yang perlu dipertimbangkan. Kekayaan koleksi dan keluasan cakupan tema bebunyian pada museum musik Keroncong yang disajikan, tentu bukan satu-satunya jaminan untuk dapat mentransfer fungsi bunyi ke dalam proses pembentukan peradaban. Namun, dibutuhkan peran-peran kolektor, kurator, analis-akademisi musik, sejarawan, para pelaku dan penerusnya, dan tentu masyarakat awam agar terlibat bersama-sama dalam menentukan sistematika paling ideal untuk semua kebutuhan masing-masing pihak. Dengan kata lain, museum Keroncong pun perlu difungsikan sebagai terminal ketika setiap orang dapat melampaui zamannya dan saling berjumpa dalam konteks musikal. 

Dalam perjumpaan tersebut, setiap pihak bisa dengan leluasa mengutarakan impian terbaiknya agar ruang museum keroncong menjadi sebuah simulasi. Dalam konteks music Keroncong, simulasi museum dapat mencantumkan proses kreatif, nilai-nilai yang disuarakan, dan perubahan sosial yang mengitarinya. Tentu saja hal ini membutuhkan perencanaan penataan yang dapat menghadirkan nuansa paling kondusif bagi tiap orang yang berada di dalamnya. Misalnya, sebuah proses kreatif yang menghasilkan lagu dan musik tertentu, pastilah memiliki kisah yang panjang. Lagu dan musik tidak begitu saja ada dan lantas menjadi dikenal orang dengan sendirinya. Proses kreatif yang menghasilkan lagu dan musik tersebut pastilah bersentuhan dengan nilai keutamaan yang beredar di khalayak sehingga membuat menjadi dekat di telinga dan mengena di dalam hati, serta pikiran khalayak. Hal demikian merupakan akibat maupun penyebab: proses kreatif yang bersentuhan dengan nilai keutamaan masyarakat dapat menjadi penanda penting bagi konteks perubahan sosial yang sedang terjadi.

Ruang pertemuan dalam tema musik Keroncong memiliki peran penting dalam menentukan peradaban. Secara teknis, tentu hal ini merupakan hak wacana bagi para musikolog. Dari perspektif pengamat dan penikmat musik Keroncong (yang kreatif bersentuhan dengan nilai dalam konteks perubahan sosial), tentu tidak berdiri sendiri sebagai dekorasi dan keindahan latar dari perkembangan peradaban. Sebab, momen-momen penting dalam peradaban manusia memiliki kekhasan musikalnya. Atau, dengan kata lain, munculnya dan bertahannya sebuah musikalisasi terhadap pesan tertentu adalah bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari peradaban dan bahkan secara lebih sempit budaya tertentu. Demikianlah sebuah museum musik tidak hanya ruang pajang kekayaan koleksi, melainkan berpeluang juga menjadi ruang pertemuan bagi peradaban.

Categories: Apresiasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *