Selat Sunda, 11/11/2015

Waktu Ashar

Entah, sudah berapa kali ia melintasi selat itu. Sejak pelabuhan kapal penyeberangan dari Panjang, kemudian pindah ke Bakauheni.

Sudah berjalan waktu. Pelayanan sudah lumayan membaik. Fasilitas umum di kapal, AC, dan keamanan, sehingga rasa was-was sedikit berkurang.

Sepuluh tahun yang lalu, suasana itu belum didapatinya. Apalagi dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu. Ketika ketertiban dan keamanan masih sangat mahal. Penjambretan, pencopetan, dan berbagai ketidaknyamanan keamanan selalu membuat was-was.

Kini, suasana itu sudah berganti. Jika dulu naik bis antar kota antar provinsi, dan antar pulau harus berdesak-desakan. Namun sejalan waktu, ketika harga tiket pesawat sudah sama dengan harga bis, banyak angkutan jasa bis yang kolap dan berganti menjadi jasa angkutan barang. Usaha bis menurun drastis, sejalan penumpang yang berkurang. Di samping harga tiket pesawat yang lebih murah, ada banyak pejalan yang menggunakan mobil-mobil pribadi.

Rupa negeri ini semakin baik. Semakin makmur. Tidak ada kekhawatiran membawa laptop, gedget, atau barang-barang mewah di jalan. Meski rasa khawatir itu sepenuh masih menghantui. Namun itulah, fasilitas umum sudah semakin baik.

Di dalam bis. Ada penumpang seorang petani karet yang hendak pulang ke Pati Jawa Tengah. Ia bercerita banyak tentang kemarau. Baginya, ”Masih mending masih bisa minum air daripada di sawah yang kekeringan.” ia ikhlas memberi bantuan air kepada para tetangganya. Ada juga yang memberi tip atau ganti jasa airnya, namun tidak begitu ia harapkan.

Kemarau panjang yang lebih hebat dari tahun 1997 yang lalu. Kemarau kali ini benar-benar membuat petani kelimpungan. Karet meranggas tidak mengeluarkan getah. Harga jual rendah. Mereka masih bertahan dengan harapan.

Kapal ferry yang membawanya, terasa sejuk dan tenang. Waktu terus berjalan. Pikiran mulai lelah.

Menikmati perjalanan darat, bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan coba mencari nuansa baru yang selama ini masih tersisa.

Pesawat sudah murah, cuma kabut asap yang menjadi kendala. Sementara meelihat ulah para pejbat yaang rajin menanam palma. Ruang hijau ditanami korma yang tak bakalan berbuah dan menghasilkan dan meningkatkaan produktivitas ekonomi masyarakat.  Jadi, bukan saja ajaran agama yang telah menglami Arabisasi, bahkan tanaman pelestari lingkunganpun ikut juga mengalaminya. Belum lagi sawitisasi perkebunan. Di samping menciptakan keterjajahan ekologi, bahkan juga keterjajahan ekosistem dan ekonomi. Perusahaan-perusahaan asing menguasai lahan. Harga di tingkat pasar dunia dipermainkan. Belum lagi dampak lingkungan pada proses penggersangan. Apakah ini makana yang dikatakan oleh Gus Dur, ketika ditanya tentang gempa Jogja 2004. ”Itu karena Nyi Roro Kidul marah dijilbabin,” kata Gus Dur.

Macet di Solo

Jam menunjukkan pukul 6:45 PM, rem jadi blong. Untung belum jauh dari kota. Masih di POM bensin. Hanya berteman aqua botol, ceriping pisang dan ceriping tempe. Makanan renyah pengganjal perut.

Kembali kepada problem sastra pesantren. Telah banyak banyak definisi sastra sesuai dengan dasar kognitifnya. Sumbangan psikoanalisa Freud tersebut banyak berpengaruh dalam perkembangan sastra belakangan ini. Ada banyak ragam teori sastra yang berkembang, namun ruang dan waktu sangat menjadi penentu.

Bagaimanapun tawaran Gus Dur tentang pesantren sebagai sub-kultur telah memiliki ciri geniusnya telah menempatkan pesantren memiliki gaya dan kehidupannya sendiri. Yang membedakan diri dari non-pesantren. Namun, pijakan Gus Dur pada nilai universal tidak menghendaki sastra pesantren berhenti pada bajunya saja. Berhenti pada bakiak dan sarung. Gus Dur mengakui, bahasa pesantren yang tinggi sehingga sulit diterima awam telah memaksa pelaku-pelaku sastra pesantren harus terjun jumpalitan untuk mendefinisikan identitas mereka. Sastra model apa yang dikehendaki?

Solo, 18/11/2015.

Categories: Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *