Seandainya saja urusan hari ini selesai, maka aku mungkin sudah tak di sini lagi. Tapi, semua seperti semula, masih menanti. Aku akan mengatakan dengan pandangan sebelah; mengenyahkan diri lebih baik.

Aku tak bisa mengatakan lagi, sehingga terhenti pada kata ”bopeng” yang sudah lama tak terpakai di dalam kosakata populer sekalipun. Kata itu hanya singgah sebentar dalam ingatan yang panjang. Aku tak berani katakan, itu sebuah memori.

Ah, sudahlah. Lirih hati hanya akan membuatku murung. Aku perlu bahagia, kata orang. Sesekali mengikuti kata orang tak ada salahnya. Bukan hanya kata hati yang sering berhenti.

Tak terperi pada dalam hati yang perih. Semua berdiri menyombongkan diri. Kasihan mereka.

Tuhan, aku tak sandarkan ingatan dalam keluhan. Aku hanya ingin mengukirnya di dalam hati. Di dalam ukiran yang diajarkan sahabat sejatiku. Biarpun keluhan terus mengiringi, tapi aku akan mengatakan bila aku membutuhkannya.

Rumah langit, tempat bersemayam doa-doa.

Rumah bumi, tempat berlabuh pikiran suci.

Aku mengandai dalam alunan kasih yang tak pernah berhenti.

Klaten, 27/10/2019

Categories: Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *