Selain tradisi dan pusaka, Sunan Kalijaga juga mengenalkan gaya dan arsitektur mesjid di beberapa tempat, terutama mesjid agung Cipta Rasa Cirebon, mesjid agung Demak, dan mesjid Ampel. Salah satu ciri khas yang dipertahankan adalah candra sengkala atau titi mangsa pendirian mesjid yang dimaksud.

Mesjid agung Demak didirikan sejak Kesultanan Demak berdiri. Pada mulanya, mesjid tersebut belum dipugar dan diperluas. Dalam arti, masih berbentuk sederhana. Namun demikian, mesjid Glagah Wangi sebagai cikal mesjid agung Demak tersebut memiliki titi mangsa berupa candra sengkala Naga Saliro Wani yang bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 Masehi. Candra sengkala yang terlukis berupa petir tersebut masih terpahat di pintu tengah mesjid agung Demak. Ketika Raden Patah atas anjuran Walisanga merubah pedesaan Glagah Wangi dan mesjid agung diperluas, ditandai dengan candrasengakala “Kori Trus Gunaning Janmi”, berupa titi mangsa 1399 Saka atau 1477 Masehi. Setelah disempurnakan arah kiblatnya dan dilengkapi soko Tatal (tiang utama) oleh Sunan Kalijaga, maka pendirian Mesjid Agung Demak sempurna pada tahun 1401 Saka atau 1497 Masehi. Penyempurnaan pendirian Mesjid Agung Demak itu pada tahun 1479 Masehi ditandai dengan candra sengkala seekor kura-kura (bulus). Makna kura-kura tersebut adalah kepala berarti angka satu (1), kakinya berarti angka empat (4), tubuh yang bulat berarti angka nol (0), dan ekornya berarti angka satu (1). Rangkaian ngka-angka tersebut membentuk titi mangsa 1401 tahun Saka..

Mesjid Agung Demak juga berbentuk bujur sangkar, joglo yang diberi serambi. Dengan atap tumpang-tumpang (limas), bersusun tiga. Yang paling atas diberi tutup (mustaka). Model arsitektur ini bagian dari Jawa-Hindu, sebagaimana tampak dalam relief candi-candi: Jago, Jawi, dan Sukuh. Dengan kata lain, arsitektur Mesjid Agung Demak merupakan perpaduan seni bangunan lokal: Jawa-Hindu.

Begitu pula dengan arsitektur mesjid Kadilangu memiliki kesamaan dengan Mesjid Agung Demak. Berbentuk joglo dengan atap tumpang bersusun tiga.

Mesjid Kadilangu sering disebut juga dengan Mesjid Wali. Titi mangsa pendiriannya sampai sekarang masih bias dibaca, di bagian atas pintu serambi mesjid. Uniknya, bukan berbentuk candra sengkala, melainkan tulisan aksara Jawa (inskripsi) berbunyi; Punika titimangsa ngadegipun masjid Kadilangu dinten Ahad Wage tanggal 16 sasi Dulkijah tahun Hijriyah Alip tahun 1456. Titimangsa tahun 1456 itu sama dengan tahun 1534 Masehi. Oleh karena itu, pendirian mesjid di bulan Dulkijah (Besar) itu dimaksudkan untuk memperingati Hari Raya Haji. Sehingga, pada tiap bulan Dzulhijjah hingga sekarang, masyarakat menyelenggarakan perayaan tradisional yang disebut “Besaran”.

Sunan Kalijaga seorang wali pejalan. Di dalam perjalanan itu, ia mendirikan mesjid-mesjid. Kebanyakan menyerupai arsitektur Mesjid Demak. Sebagian besar mesjid-mesjid tersebut terletak di pedalaman Jawa Tengah. Seperti Jabalkat, Tembayat, Mustofa (desa Jenar, Purworejo), dan Dlangu (Kutoarjo). Khusus mesjid Dlangu, disebut juga dengan Mesjid Tiban, karena berfungsi juga sebagai tempat pengobatan. Secara khusus, Sunan Kalijaga juga menguasai ilmu pengobatan. Tiban di sini bukan berarti tiba-tiba jatuh dari langit, melainkan dari bahasa Arab, thibban, yang berarti pengobatan.

Categories: Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *