Sunan Kalijaga dikenal memiliki warisan pusaka raja-raja Jawa yang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah, adat istiadat keraton, dan keluhuran martabat para raja Jawa.

Warisan pusaka-pusaka tersebut direka ulang sehingga tetap menjadi pegangan sesudahnya. Reka-reka tersebut dapat terlihat dari benda-benda pusaka dan upacara-upacara keraton. Adapun yang berupa benda-benda pusaka, seperti gamelan sekati, keris Kiai Kopek, keris Kiai Sangkelat, kendil Kiai Barkat. Sedangkan yang berupa tradisi budaya adalah upacara Sekatenan, Grebeg: mulud, puasa, dan dal.

Penguasaan Sunan Kalijaga atas sejarah, adat istiadat, dan keluhuran Jawa dapat terlihat dari sosok dan karya-karyanya yang agung. Pandangan yang tak lekang oleh zaman. Terus menjadi pegangan dan abadi. Hal ini karena Sunan Kalijaga sangat menghayati jiwa “kejawaan”nya.

Gamelan Saketi terdiri dari dua perangkat, pangkon (set). Berlaras pelog. Laras ini bersifat tenang dan lembut serasi untuk suasana khidmat dan syahdu. Instrumennya terdiri dari 2 buah gong ageng (besar), 2 buah saron demung, 2 buah saron barung, 2 buah saron penerus, 1 rancak boning, sepasang kempyang dan sebuah bedug. Alat-alat music yang sudah ada pada zaman itu dipertegas lagi oleh Sunan Kalijaga dengan menambah instrumen bedug. Bedug biasa ditaruh di serambi mesjid sebagai tanda waktu salat, sahur, dan awal Idul Fitri. Dan, bukan sekadar mengungkapkan jiwa keimanan semata, bedug dalam gamelan Saketi tersebut memang dalam komposisi irama yang ritmis. Karena, bersifat religius dengan irama yang kadangkala menyayat kalbu, sebagaimana gending wirangrong, ciptaan Sunan Kalijaga yang menggambarkan suasana haru, karena Hasan dan Husin putera Fatimah binti Rasulullah gugur. Semua instrumen gamelan Sekati merupakan sumbangan Sultan Demak dari pusaka keraton Demak yang sebelumnya menjadi pusaka keraton Majapahit. Dan, konon jauh masa sebelum, gamelan tersebut adalah milik Prabu Jayabaya Kediri. Ada juga yang menyatakan, instrumen gamelan Sekati tersebut milik Raden Panji Hino Kertapati atau Prabu Banjarsari.

Adapun pusaka keraton Keris Kiai Kopek warisan Sunan Kalijaga merupakan perlambang pamor kerajaan. Raja yang memiliki keris Kiai Kopek berarti memiliki pamor kerajaan Jawa. Konon, keris pusaka tersebut milik Prabu Darmokusumo, raja Ngamarta, yang kemudian diberikan kepada Sunan Kalijaga untuk diwariskan kepada raja-raja Jawa.

Cerita menarik yang bersifat simbolik dari keris ini adalah ketika legenda yang menyelimuti cerita antara Sunan Kalijaga dan Prabu Darmokusumo. Negara Ngamarta yang masyhur dalam kisah wayangan Barata Yudha itu menunjukkan kesinambungan sejarah. Sebagaimana terjadi penyaduran kisah yang berhasil “dibumikan” di dalam kehidupan masyarakat Jawa pada saat itu. Bahwa, cerita-cerita wayangan adalah gambaran hidup mereka. Melalui wayang ini, Sunan Kalijaga memasukkan unsur-unsur ajaran agama Islam ke dalam cerita. Sebagaimana digambarkan keris tersebut diberikan kepada Sunan Kalijaga setelah ia mampu membabar makna pusaka Jamus Kalimasada (kalimat syahadat) yang tersimpan di dalam keris. Demikian, unsur terpenting sebagai “kesaktian” yang sangat dipercaya masyarakat Jawa pada saat itu dimasukkan dengan unsur inti agama Islam, kalimat syahadat. Sampai sekarang, keris Kiai Kopek masih menjadi pusaka keraton Yogyakarta.

Selain pusaka Kiai Kopek, Sunan Kalijaga juga meninggalkan keris Kiai Sangkelat yang sekarang digunakan sebagai pusaka keraton Kesunanan Surakarta. Sangkelat berasal dari kata sengkel ing ati yang berarti kesal hati. Diceritakan, keris tersebut pada mula bernama Kiai Slamet. Namun, karena raja Pajang, Sultan Hadiwijaya, saat itu lebih mementingkan materi, sehingga struktur Dewan Walisanga yang terbentuk di Demak dibubarkan, membuat Sunan Kalijaga marah dan jengkel. Karena jengkel, kemudian keris tersebut dinamakan Sangekelat.

Dewan Walisanga dibentuk untuk memberikan nasehat-nasehat kepada raja di dalam menentukan kebijakan-kebijakan. Oleh karena itu, setiap tahun para Walisanga mengadakan musyawarah agung yang dihadiri oleh sultan. Musyawarah agung tersebut diselenggarakan di dalam mesjid yang bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, dimeriahkan oleh para santri dengan iringan rebana dan kasidah. Karena rebana belum cukup dikenal di Demak saat itu, maka Sunan Kalijaga memadukannya dengan gamelan dan gending agar masyarakat umum dapat pula berminat mengikuti acara musyawarah agung tersebut.

 Di dalam musyawarah agung itupun disepakati, jika penggunaan alat musik sebagai media dakwah sangat diperlukan. Oleh karena itu, kemudian Sultan Demak menyumbangkan beberapa perangkat dan alat. Sementara Sunan Bonang dan Sunan Giri memberi bantuan komposisi irama musiknya. Walhasil, dari hasil musyawarah Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, dan Sunan Giri, maka disepakati acara grebeg akan dibunyikan gamelan Sekati di keraton. Dan, pada malam hari gamelan tersebut diarak keluar keraton dan dibunyikan di pagongan, di sebelah kanan kiri pintu gerbang Mesjid Agung Demak. Upacara arak-arakan tersebut dilakukan dengan khidmat dengan pengawalan khusus oleh pasukan-pasukan keraton. Di keraton Yogyakarta, pasukan khusus tersebut adalah pasukan-pasukan Mantirejo dan Ketanggung.

Tradisi grebeg yang dilaksanakan di keraton sebetulnya bukan tradisi baru yang diciptakan oleh para Walisanga. Tradisi tersebut hanya dimasuki oleh unsur-unsur baru seperti bedug, dan makna filosofinya. Tradisi grebeg sudah menjadi bagian hidup masyarakat Jawa pada umumnya. Sejak masa sebelum Majapahit, tradisi grebeg dikenal dengan sebutan Rojowedo yang berarti persembahan bagi para dewa. Dalam persembahan tersebut diadakan pemotongan kerbau jantan liar.

Karena dakwah sultan Demak ingin menghapuskan tradisi yang bertentangan dengan ajaran Tauhid, maka terjadi malapetaka besar, berupa kekeringan dan paceklik. Atas saran Sunan Kalijaga, maka tradisi Rojowedo (kebijaksanaan raja) tersebut dihidupkan kembali, tentu dengan memasuki unsur-unsur dakwah dan tidak bertentangan dengan tauhid.

Categories: Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *