Meskipun Sunan Kalijaga cukup dikenal di Cirebon, namun wilayah dakwahnya memang luas. Ia banyak meninggalkan petilasan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di antara syair dan tembang hasil karyanya Sunan Kalijaga yang lain dan dikenal luas masyarakat Jawa hingga sekarang adalah Lir Ilir:

Lir ilir lir ilir tandure wus sumilir

Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno kanggu mbasuh dodot iro

Dodot iro dodot iro kumitir bedhah ing pinggir

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore

Mumpung padhang rembulane

Yo surako surak horee…

Untuk memahami ajaran-ajaran para wali di tanah Jawa, terutama di sini adalah Sunan Kalijaga harus dimengerti pada kata kunci “ngelmu”. Ngelmu dalam istilah pribahasa Jawa berarti tidak saja menyentuh pada aspek formal saja, melainkan juga pada aspek transendental, hikmah. Ngelmu yang terkenal di antaranya adalah Ngelmu Sangkan Paraning Dumadi, ilmu asal usul dan kelenyapan alam semesta. Ilmu ini merupakan intsari ajaran agama Islam yang mengungkap makna kalimat: laa ilaha illallah, khaliqul Asyya Huwallah minal adam ilal maujud, tsummal adam ba’dal maujud. Ilmu ini yang menjadi perdebatan para wali, sehingga menimbulkan konflik pada kasus Syekh Siti Jenar. Karena, Ngelmu Sangkan Paraning Dumadi termasuk ilmu yang tak dapat dimiliki oleh sembarang orang, ilmu kang ora kejabarlah marang sadhengah manungsa. Ilmu ini dalam Kongres kebathinan Indonesia tahun 1954 di Semarang menyatakan ilmu ini termasuk ilmu yang menjadi kekeraning Hyang Widhi.

Di samping ngelmu sangkan paraning dumadi, Sunan Kalijaga juga member wejangan-wejangan yang bersifat aplikatif, sebagaimana ngelmu panunggaling jati, ilmu penyatuan sifat-sifat shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah ke dalam watak pribadi.

Ngelmu pangracutan, berupa ilmu penyatuan syariat, tarekat, hakekat, dan makrifat dalam segala amal perbuatan. Kemudian, Ngelmu Mustaka Jati, ilmu yang mempergunakan akal pikiran yang benar.  Ngelmu Olah Kamuksan, ilmu penyatuan jiwa ke dalam rahmat Allah. Ngelmu Kasidan Jati atau ngelmu Kamuksan Jati, disebut juga Ngelmu Marga Nirwana, ilmu saat mati secara sempurna (husnul khatimah). Tidak lupa pula, Sunan Kalijaga juga menerapkan etika (sikap), ketika menyampaikan wejangan-wejangannya. Falsafah neng ning, nung, nang dari pukulan-pukulan alat musik mengisyaratkan neng (dari kata menenga), berarti diamlah (anshitu)! Ning dari kata heningna, berarti dengarkan baik-baik (wasma’u)! Nung dari kata dunungna, berarti amalkanlah (wa ‘athi’u)! Dan, nang dari kata menang. Dengan rahmat Allah, menang atas godaan hawa nafsu.

Namun demikian, ajaran-ajaran para wali tersebut pada mula diajarkan secara lisan. Baru kemudian, ditulis tangan, sebagaimana Suluk Songkan Paron dalam bahasa Jawa Tengahan yang terdiri dari Sembilan pupuh, berupa syair (sekar) untuk dinyanyikan (tembangake) dalam Asmaradhana, Mijil, Sinom, Durma, Gambuh, dan Pangkur.


Categories: Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *