MESIN PENDIDIKAN

Sejak terjadi klasifikasi ilmu pengetahuan dengan varian-varian dan cabang-cabangnya, ilmu dan pengetahuan manusia mengalami polarisasi dan varianisasi secara signifikan. Karena, telah berdampak pada cara pandang dan cara kerja manusia-manusia di dalam kehidupan mereka, terutama pada pengaruh modernisme.

Salah satu hasil yang dilahirkan oleh modernisme yang berdampak adalah positivisme logika yang mengekang. Manusia tidak menemukan kebebasannya setelah reduksi-reduksi pengetahuan mengambil alih peranan dalam hal mekanisme layanannya.

Demikian pula yang terjadi pada dunia pendidikan sebagai mesin yang bersifat mekanik membagi polarisasi dan spesifikasi turunannya. Sejak dini, universalisme menjadi asing di dalam penanaman ilmu dan pengetahuan pada anak didik, kendati upaya-upaya kritik dan pembebasan terus dilakukan untuk menantang semua dampak dari alur yang terus berlangsung sejak modernisme hingga mekanisme-mekanisme yang berperan.

Modernisme dan Sistem Mekanik

Modernisme sebagai bentuk manifestasi dari akumulasi sejarah telah menemukan tempatnya pada masa Revolusi Industri yang melahirkan manusia bekerja berdasarkan mesin. Di satu sisi, kerja-kerja mesin tersebut diterapkan dan diposisikan pula pada kerja-kerja kelas sosial. Pos-pos penempatan yang diisi oleh kelangan-kalangan terterntu seperti borjuis, mandor, dan pekerja/buruh memberikan ruang seolah ada jarak antar kepentingan. Kepentingan kemudian dipahami sebagai alur yang berbeda dari kerja-kerja mekanik yang dilakukan oleh kalangan pekerja. Hiddin agenda yang dikehendaki oleh kaum borjuis sebagai pemilik modal serta kebijakan telah dilapisi dan dibatasi jaraknya oleh kaum kelas menengah yang diwakili oleh para mandor. Dengan atas nama universalisme tanpa kepentingan, kaum borjuis yang duduk indah di singgasananya mengartur regulasi-regulasi melalui birokrasi yang dijalankan dan dilahirkan akibat dari tatanan dunia kelas tersebut. Sehingga mau tidak mau sebuah sistem diciptakan untuk mengatur jalannya regulasi-regulasi tersebut agar tercapai tujuan-tujuan yang dikehendaki oleh kalangan atas/borjuis di dalam mengakumulasi modal, kepentingan, dan tujuan-tujuan mereka.

Simplikasi-simplikasi yang diakumulasi kemudian membentuk garis-garis komando yang secara berjenjang menempatkan pengetahuan kemudian sesuai dengan kapasitas mekanik yang sedang berjalan. Laporan-laporan yang diambil dari fenomena-fenomena dan gejolak-gejolak sosial yang terjadi di bawah pengaruh kepentingan dan keterlibatan mengakibatkan konflik diametral tak dapat dihindari. Sebuah gambaran penting di dalam sebuah kolonisasi perkebunan. Ketika masyarakat pekerja melaksanakan kegiatan-kegiatan dan aktivitas-aktivitas rutin sesuai janji dan upah. Di satu sisi, telah tercipta keteraturan-keteraturan dan stabilitas antara mandor sebagai representasi kalangan menengah bersama masyarakat pekerja yang melakukan aktivitas-aktivitas industri di dalam kawasan perkebunan tersebut. Sementara di sisi yang lain, keterbatasan-keterbatasan pengetahuan mengakibatkan masyarakat pekerja tidak mampu membela dirinya sendiri, kecuali dengan perlawanan frontal atau naik setingkat menuju kelas menengah yang didiami oleh kalangan mandor. Ketidakberdayaan masyarakat kelas pekerja di dalam membela diri diperparah oleh kalangan menengah yang menutup diri melalui serangkaian-serangkaian kegiatan birokratis. Dengan kata lain, konflik diametral yang terjadi pada masyarakat pekerja kemudian diciptakan untuk menghindari terjadinya konflik vertikal. Regulasi-regulasi yang tersumbat karena sebab kebuntuan dan tidak terpenuhinya hak dan kewajiban antara masyarakat pekerja dan masyarakat kelas atas telah mengakibatkan benturan horisontal terus dipelihara.

Namun demikian, faktor eksternal dapat memiliki kepentingan yang jauh lebih besar sehingga memerlukan kompromi agar regulasi yang berjalan tertib mendorong terciptanya konflik lebih besar dan berujung pada konflik vertikal yang tak terelakkan. Sehingga penghancuran sistem yang berlaku, baik dilakukan secara sadar atau tidak, akan terjadi begitu saja. Penghancuran sistem tersebut secara alami akan terjadi dengan sendirinya dan dapat dipercepat dengan dorongan kekuatan yang disengaja oleh dunia eksternal. Walhasil, kekuatan kalangan atas yang diwakili oleh kaum pemodal dan pemangku kebijakan akan mengalami perubahan sistem ketika sistem lama tak lagi mampu dan efektif di dalam mengendalikan sistem yang sudah tidak berjalan.

Upaya Menjalankan Post-truth

Dari uraian tersebut di atas, perubahan sebuah sistem tidak dapat dielakkan karena berbagai dorongan dari faktor eksternal, baik dilakukan secara sadar maupun tidak. Upaya-upaya pembakuan terhadap sebuah sistem yang mapan tidak pernah lagi terjadi. Kesadaran yang didapat dari hasil pendidikan yang membebaskan dari tindasan dan keterbukaan mengakibatkan masing-masing kelas berupaya mempertahankan diri masing-masing. Hubungan yang semula bersifat hierarkis menghendaki sebuah relasi yang saling menguntungkan, tentu dengan pembagian keuntungan yang jauh lebih besar dan merata.

Demikian pula yang sedang dialami di dalam dunia pendidikan. Sistem kelas yang berjenjang dapat saja dilebur menjadi hubungan relasi antara guru dan murid. Masing-masing bergiat melakukan upaya take and give agar tidak mengalami ketertinggalan. Bisa jadi, di era digital dengan kecepatan akses dan pengetahuan, seorang murid dapat jauh lebih banyak memperoleh pengetahuan. Pengendalian ilmu dan pengetahuan yang semula mengalami akumulasi tidak lagi mampu berdiri kokoh dan hanya dimiliki oleh segelintir kalangan elit atas. Hubungan timbal balik mengakibatkan relasi jauh lebih penting daripada sebuah pengalaman. Hal ini mengakibatkan perlunya upaya-upaya konkrit dan memiliki dampak yang praktis. Pragmatisme jauh lebih penting digunakan di dalam situasi seperti ini daripada pengalaman yang memerlukan waktu dan proses.

Penghayatan dan pengendapan pengalaman di dalam kerangka sebuah ilmu dan pengetahuan tidak lagi dianggap penting, karena tidak mampu menjawab realitas secara praktis. Ilmu dan pengetahuan akan mengalami situasi kompetetif. Gugur di tengah jalan. Ilmu-ilmu dan pengetahuan yang dianggap tidak berguna akan segera ditinggalkan dan ditindih oleh kepentingan-kepentingan sesaat. Akumulasi yang semula sangat dipelihara dan dihormati secara frontal mengalami erosi dan kebangkrutan. Pendidikan yang hanya mengutamakan penyampaian-penyampaian teoretik tidak berlaku di kalangan masyarakat yang hybrid. Masyarakat yang terisolasi dan klinis justeru yang akan mampu bertahan, kendati akan menghadapi akumulasi yang kaku dan beku. Feodalisme pendidikan akan menemukan tempat justeru di saat dunia sedang membutuhkan pengetahuan relatonship. Sebab, karena realitas ”gugur di tengah jalan” yang sedang dialami oleh realitas praktis akan berdampak kembali pada sikap mencari akumulasi-akumulasi ilmu dan pengetahuan. Ilmu yang telah baku pada akumulasi memerlukan relasi pengetahuan yang bersifat pengalaman. Di satu sisi, ilmu dan pengetahuan berjarak dengan garis damarkasi, sedangkan di sisi yang lain memerlukan relasi yang saling menguntunngkan, berupa dinamisasi yang elastis. Dengan kata lain, relasi memerlukan hubungan manusiawi yang mandiri namun tetap membutuhkan relasi. Dunia pendidikan dibutuhkan kemandirian ilmu dan membangun kesinambungan bersama-sama pengetahuan yang berbasis pengalaman.

Yogyakarta, 2 November 2019.

Categories: Apresiasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *