Semua bangsa yang datang ke Nusantara memiliki tujuan yang sama, berniaga. Mereka membawa rempah-rempah dan hasil bumi ke negara asal mereka (Arab, Inggris, Belanda, Portugis, Spanyol, Yaman, Maroko, Mesir, Turki, Tiongkok, Mongol, India, dan lain-lain).

Begitu pula sebaliknya, suku bangsa yang ada di Nusantara tidak sedikit yang melakukan “rihlah”, merantau, demikian. Umumnya, mereka pergi dalam rangka belajar dan menuntut ilmu. Meskipun sangat sedikit yang pergi berniaga seperti suku Banjar, suku Bugis, suku Minang, dan beberapa lainnya. Sehingga gambaran yang umum dalam sejarah Indonesia adalah suku bangsa yang terbelakang dan pasif. Primordial. Bukan sebaliknya sebagai suku bangsa yang aktif dan progresif.

Baik Pramoedya Ananta Toer (PAT) maupun Gus Dur (K.H. Abdurrahman Wahid) berpandangan: telah terjadi arus balik terhadap masyarakat Jawa. Masyarakat suku bangsa yang semula agresif dan berjaya di laut, berubah terbalik dengan stigma masyarakat agraris. Masyarakat bercocok tanam. Sehingga progresivitas masyarakat yang semula berani dalam menghadapi tantangan menjadi masyarakat yang sangat berhati-hati dan penuh perhitungan.

Kehadiran-kehadiran suku bangsa asing sebagaimana tersebut di atas tidak membawa efek yang buruk bagi suku bangsa yang ada di Nusantara, selama tidak membawa problem-problem konflik yang terjadi di negara asal mereka. Misal, konflik yang ditimbulkan oleh suku bangsa Mongol yang datang hendak berkuasa di pulau Jawa. Mereka membawa pesan penaklukan dan meminta raja Jawa untuk mengakui kekuasaan dan kebesaran mereka.

Sejarah demikian terus berlangsung dalam tragedi yang menimpa masyarakat Nusantara. Masyarakat yang semula secara sukarela dan terbuka menerima kedatangan suku bangsa asing tersebut berhasil dimanfaatkan “kebodohan -kebidohan” mereka. Mereka menjadi statis dalam meredam setiap konflik. Dan akhirnya, konflik terbesar dibangun memang di pulau Jawa.

Sebagian besar penduduk pulau Jawa berhasil menyebar dan membentuk koloni-koloni baru di berbagai daerah. Dunia internasional dalam literatur-literatur lama menyebut adanya sastra atau aksara Jawi. Secara budaya terus berkembang dalam bentuk koloni-koloni yang tinggal di Jazirah Arab, Persia, Baghdad, Maroko, Tunisia, Turki, dan Mesir. Adanya indikasi bahasa-bahasa Nusantara diserap ke dalam bahasa-bahasa non Nusantara memberi pengertian itu. Progresivitas dan aktivitas budaya yang turut memberi kontribusi. Pusat-pusat peradaban dunia yang telah memanggil suku bangsa Nusantara untuk turut berpartisipasi di kancah peradaban. Sumbangsih tersebut tampak nyata dalam bentuk tenaga-tenaga kerja yang kian bertambah di Hongkong, Makao, Taiwan, Jepang, Singapura, dan Malaysia pada masa-masa akhir ini. Meskipun masih dalam kapasitas yang jauh lebih rendah sebagai buruh pekerja.

Penulis: Goesd
Editor: Goesd

Categories: LaporanOpini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *