Beberapa teori dikemukakan untuk menggadang “masuknya Islam ke Nusantara”. Namun, sedikit sekali yang memberikan asumsi Islam tumbuh di Nusantara.

Islam selama ini memang dipandang sebagai agama dakwah. Agama yang mengajak kepada kebaikan. Sehingga muncul asumsi-asumsi: Islam hadir di Nusantara atas inisiatif mengajak penduduk yang belum menjadi muslim, menjadi muslim. Islam disampaikan dengan cara damai diantaranya melalui perantara hubungan perdagangan. Dan, kesan yang paling kuat adalah kaum muslimin di Nusantara melakukan perlawanan politik, baik dengan perang ataupun diplomasi. Penaklukan negara Demak dalam merebut pengaruh besar dan diikuti oleh negara Mataram diasumsikan untuk menegakkan supremasi Islam. Demikianlah, sandaran-sandaran ilmiah menurut para ahli sejarah yang merujuk kepada teks-teks Kuna semisal Babad Tanah Jawi, dan lain-lain.
Asumsi yang dikembangkan oleh kalangan sejarawan tersebut berpijak pada: suku bangsa yang mendiami Nusantara sudah cukup menikmati kekayaan alam yang melimpah sehingga tidak perlu lagi bersikap agresif, positif, dan ekspansif.
Namun demikian, tidak sedikit yang mulai mempertanyakan asumsi-asumsi dengan pendekatan historiografi tersebut; dengan memperbandingkan teori-teori budaya: Islam tumbuh sebagai kehendak manusia Nusantara dalam meningkatkan spiritualitas dan beragama (Islam). Pendekatan ini di samping melihat fakta-fakta historis juga menggunakan akses-akses sosial, topografi, geografi, filologi, dan tentunya politik.
Nusantara dengan tipikal masyarakat maritim mulai mengalami kemunduran setelah suku bangsa Eropa mulai melakukan perjanjian-perjanjian politik, di samping melakukan tindakan aneksasi atas wilayah, monopoli perdagangan, dan mengatur kehidupan istana. Diawali dari perjanjian negara Sunda atas berdirinya kota koloni Sundakelapa, kerjasama Raja Wikrama Wardhana dan Portugis, diikuti kemudian oleh Belanda terhadap negara Mataram.
Asumsi ini memberi peluang kepada gerakan-gerakan kultural melalui cerita-cerita rakyat (folklor) yang minor semisal reog, Sabdo Palon dan Naya Genggong, serta Dharmogandul dan Gatoloco. Sastra-sastra minor tersebut merupakan bentuk protes dan turunnya martabat kuasa, karena sedang terjadinya kesenjangan politik istana.
Namun yang jelas, dapat dilihat pula dari faktor penggunaan bahasa. Sejarah bahasa yang berlaku sebelum penduduk Jawa utamanya menganut agama Islam. Peralihan penggunaan bahasa terjadi secara massif manakala terjadi proses Arabisasi aksara, melalui huruf Pegon (Arab Melayu atau Arab Jawi). Sebelum huruf tersebut dikenal luas, masyarakat dan penduduk di Nusantara masih menggunakan aksara-aksara lama seperti Kawi (gabungan Jawa dan Sansekerta) maupun aksara Hanacaraka. Secara sosial, masyarakat Nusantara masih melakukan cara hidup yang arbritrer. Bebas. Namun, mulai tertata pada budaya tinggi yang berlaku di istana dan taman-taman pendidikan berbasis agama semisal Sima dan Perdikan.
Categories: BeritaEsai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.