Apresiasi

Musik dan Peradaban

Pada kenyataannya, musik dan lagu dapat menjadi media propaganda, sebagaimana sebuah iklan dengan visualisasi bagus diiringi oleh lantunan musik dan lagu. Demikian pula, Kusbini bersama Ir. Soekarno mampu membangkitkan alam sadar bangsa Indonesia yang sangat Read more…

By Redaksi, ago
Apresiasi

SYEKH SITI JENAR

Banyak hal yang saya coba cermati melalui indera penglihatan dan perasaan. Tokoh Syekh Siti Jenar yang multitafsir itu, saya mencoba melihatnya lewat tetaer ini. Jika kebanyakan masyarakat menanyakan ajaran, menceritakan riwayat Syekh Siti Jenar secara blak-blakan. (lebih…)

By Redaksi, ago
Apresiasi

GUS DUR

Dari Sisi yang Terlupakan

Gus Dur adalah buku terbuka, jadi tidak begitu sulit membacanya. Persoalan, bagaimanakah membaca Gus Dur dan buku apa saja yang akan kita butuhkan untuk membacanya? Tentu, di dalam diri Gus Dur yang multi tema tersebut, kita harus dapat dengan cermat membacanya, kalau tidak kita akan tersesat dalam penafsiran kita sendiri dan masuk pada lorong labirin.

Membaca Gus Dur membutuhkan pengetahuan yang mendalam, ketulusan dan kebersihan jiwa. Di dalam diri Gus Dur yang multi tema tersebut kita harus bersih memilah – milah tema yang akan kita dapatkan dari beliau. Dan harus konsisten, jangan sampai termakan oleh sampiran – sampiran.
Sebagai seorang pujangga, syair – syair pemikiran beliau bertebaran di berbagai media, mulai dari pengajian, diskusi publik, dialog terbatas, hingga pernyataan – pernyataan beliau yang mengundang kontroversial. Membersihkan diri dari prasangka – prasangka adalah langkah awal membaca Gus Dur. Sebab beliau sering melontarkan syair – syairnya yang berisi “puisi- puisi” masa depan. Atau prosa – prosa lirik yang mengharuskan kita garuk – garuk kepala karena kekurangan referensi.
Mengingat tingginya tingkat kegeniusan Gus Dur membuat orang-orang yang tingkat kecerdasanya pas-pasan: kelimpungan dan berakibat pada keberangan. “Gitu Aja Kok Repot” adalah salah satu “puisi” yang menggambarkan betapa cepatnya Gus Dur memecahkan sebuah permasalahan. “Puisi” gitu aja kok repot menjadi perbincangan dan life style beberapa dekade di kalangan penikmat seni Gus Dur, mulai dari kalangan tukang ojek hingga kalangan direktur utama dan para jet set. “Puisi” itu sangat laku hingga dimamah biak oleh mulut-mulut orang yang ingin memecahkan persoalan. Dan anak – anakpun ikut merayakannya.
Walaupun jadi semacam mimesis massal ini merupakan “puisi” termurah di dunia, “dibeli” oleh masyarakat puisi dunia dengan gratis, tanpa dicetak oleh penerbit, tanpa pemasaran, tanpa out let. “Puisi” celana pendek Gus Dur melambaikan tangan dari istana adalah satu – satunya “puisi” yang tak terlupakan, tak ayal lagi multi tafsirpun berhamburan dari para pengamat dan diliput oleh media seluruh dunia. “Puisi” tanpa kata – kata, “puitikal body language”.

(lebih…)

By Redaksi, ago